ALAT TRADISIONAL BATAK PERLENGKAPAN RUMAH TANGGA DAN PESTA

1. SAPA (1) : Sejenis pinggan dari kayu nangka tempat nasi untuk makan bersama (sekeluarga). Istilah Sapa-nganan adalah identifikasi dari keadaan makan bersama dari Sapa, artinya Sapanganan identik dengan kaum kerabat, keluarga dekat. 2. SAPA (2) : Bentuk lain dari Sapa dan lebih besar. 3. PINGGAN PASU : Dibuat dari bahan porselen, warna Hijau keputih-putihan dipakai untuk tempat makanan pada upacara adat. 4. PINGGAN JAROJAK (I) : Bahan dari porselen putih, dengan ornamen berwarna biru, digunakan untuk tempat makanan pada waktu pesta adat. 5. PINGGAN JAROJAK (2) : Bahan dari porselen putih dengan ornamen warna merah bata dipakai waktu pesta adat. 6. PINGGAN SIBULUNG GAOL : Bahan dari porselen putih kotor dengan hiasan gambar bunga dan daun berwarna hijau kebiru-biruan dipakai waktu pesta adat. 7. PINGGAN PUTI : Bahan dari porselen putih digunakan oleh para datu pada upacara khusus Hadatuon dan upacara adat tertentu. 8. PINGGAN BUNGA : Bahan dari porselen putih dengan gambar orna men berwarna biru, digunakan untuk pinggan Pallompanan. 9. SAKKE PINGGAN (1) : Anyaman rotan special untuk tempat menyimpan pinggan dengan menggantungkannya di dinding atau rak rumah. 10. SAKKE PIRING : Serupa dengan Sakke Pinggan khusus tempat piring, lebih kecil dari Sakke Pinggan. 11. SAPA TANO : Bahan dibuat dari tanah liat dibentuk soma de – ngan sapahau fungsinya sama dengan sapa hau. 12. SALUNG : Bahannya dari bambu, digunakan untuk tempat minum pada waktu pesta. 13. ANDURI PANGANAN : Bentuk seperti tampi beras tetapi lebih kecil, bahan terdiri dari Rotan dan kulit bambu. Digunakan sebagai tempat makan untuk umum diwaktu pesta. 14. POTING : Bahannya dari bambu, tali ijuk don rompu hotang digunakan untuk tempat mengambil air dari sumber air untuk persediaan air di rumah. 15. GARUNG-GARUNG : Bahan dari bambu, dirakke (dililit) dengan anyaman rotan, digunakan tempat air minum. 16. SIKKUP : Bahan dari rotan, dianyam berbentuk bulat, dibuat bertutup seperti hudon tano. Dipakai untuk tempat pakean, benang dan barang berharga lainnya (sekitar 50 tahun). 17. HITANG : Bahan dari rotan, dianyam bentuk bulat, pipih dan bertutup serta bertali, fungsi soma dengan sikkup ( sekitar 100 tahun ). 18. TABU-TABU : Bahan dari buah labu tutupnya dibuat dari kayu bentuk patung, dulu digunakan untuk tempat air minum dan dewasa ini banyak digunakan sebaqai hiasan. 19. PARRASAN :Bahan dari baion logen (sejenis pandan) dianyam, digunakan untuk tempat beras. 20. SANIHE : Bahan dari rotan, dianyam, digunakan untuk alas benda-benda bulat dan mudah pecah, seperti hudon, guci, guri-guri dan lain-lain. 21. HARPE HOTANG : Dibuat dari rotan dianyam dengan bentuk khusus bagian alas berbentuk parabola, bagian bawah rata. Dipergunakan untuk landasan periuk tanah. 22. HADANG HADANGAN (1) : Sejenis tas tangan tempat belanjaan atau barang barang bawaan waktu berpergian. Bahannya dibuat dari baion (login) dianyam secara khusus diberi bertali sehingga praktis untuk di bawa-bawa. 23. HADANG HADANGAN (2) : Serupa dengan di atas tetapi lebih kecil, digunakan untuk tempat garam. 24. HAJUT PARDEMBANAN : Dibuat dari daun pandan, dianyam sedemikian indah untuk tempat sirih dan kelengkapannya. biasanya digunakan oleh kaum ibu. 25. HAJUT-HAJUT : Hajut Pardembanan motif lain dibuat dari daun Pandan Simata dan Kain merah. Berasal dari daerah Angkola. 26. SALAPA (1) : Dibuat dari bahan kuningan (golang-golang) digunakan untuk tempat sirih. 27. SALAPA (2) : Tempat tembakau dibuat dari kuningan. 28. PARHAPURAN : Bahan dari kuningan dipakai untuk tempat kapur sirih. 29. PARTIMBAHOAN :Dibuat dari kulit telor Kambing dipakai untuk tempat tembakau.HALAHATI : Bahannya dari besi, dipakai untuk membelah pinang. 30. BALANJA : Tempat menyimpan sirih dibuat dari bambu, bertutup dari ijuk dan kayu. 31. GONDIT : Bahannya dari kulit kerbau digunakan untuk ikat pinggang sekaligus tempat menyimpan duit (uang). 32. HAMPIL : Dibuat dari kulit seekor anak kambing secara utuh tanpa jahitan / tambalan digunakan sebagai hajut oleh raja-raja adat dan para dukun sakti. Koleksi ini diperhitungkan telah berumur ratusan tahun. 33. HAJUT BAG :Hajut jenis lain dari jaman penjajahan belanda. Bahan dari kulit, besi dan telah dijahit biasa dipakai laki-laki kaya don berpengaruh. 34. HAJUT KULIT : Hajut ini dibuat dari kulit lembu yang belum disamak, biasa dipakai raja-raja adat untuk tempat sirih dan perlengkapan lainnya. 35. TUKKOT MALLO : Tongkat orangtua umumnya bahannya dari rotan dipakai sehari-hari. 36. TUKKOT NATUIT : Dibuat dari tanduk kerbau dihiasi dengan gelang-gelang besi putih, perak dan tembaga dipakai oleh kaum lelaki perlente, waktu berjalan-jalan ke pecan dan waktu mainondur ke pesta-pesta. 37. TINTIN BAGANDING TUA : Bahannya dari tembaga, perak, kuningan dan Simbora (timah), digunakan sebagai hiasan jari sekaligus untuk jimat. 38. TINTIN GOLANG-GOLANG : Dibuat dari besi kuningan bercampur tembaga. Dipakai sebagai jimat dan hiasan jari. 39. LEANG (1) : Dibuat dari kuningan dan tembaga, diukir dengan motif khusus Singa-Singa, dipakai sebagai hiasan pelengkap kebesaran. Dipakai pada waktu pesta oleh kaum laki-laki. 40. LEANG (2) : Bahannya dari kuningan, tembaga dan simbora, dipakai oleh kaum ibu waktu pesta-pesta. 41. GOLANG : Bahan dari kuningan, diukir ragam hias Singa-Singa dipakai oleh kaum Bapak. 42. PUTTU : Gelang lengan dari batu putih digunakan oleh kaum bapak dilengan sebelah kanan pada waktu pesta-pesta. 43. GOLANG GADING : Dibuat dari gading gajah, dipakai oleh kaum bapak pada waktu pesta, letaknya di pangkal lengan kiri dan kanan sekaligus. 44. HORUNG-HORUNG SI MATA : Bahan dari manik-manik, Simata dan Sikkoru. Dipakai sebagai kalung kebesaran oleh laki-laki maupun wanita, biasanya diwaktu pesta. 45. HORUNG-HORUNG BONANG MANALU : Bahan dari benang pilin tiga warna dan buah rotan dipakai sebagai jimat terutama untuk anak-anak balita. 46. SIBONG SITELPANG : Kerabu Batak, dibuat dari kuningan dan emas batak digunakan sebagai penghias telinga oleh kaum ibu dan bapak. 47. SIBONG OTTOK-OTTOK : Kerabu batak jenis lain dipakai oleh kaum sebagai perhiasan. 48. SORTALI (1) : Bahan dibuat dari tembaga, disepuh dengan emas batak ditempelkan paada kain merah, dipakai untuk ikat kepala (Mahkota) laki-laki pada pesta-pesta besar. 49. SORTALI (2) : Serupa dengan Sortali kaum lelaki, tetapi motif ini khusus untuk wanita. 50. HOHOS : Dibuat dari benang tiga warna. (merah, putih dan hitam) ditenun/disirat digunakan sebagai ikat pinggang muda-mudi di waktu pesta. 51. RAKKE : Tempat barang-barang seperti Ulos, pinggan dan lain-lain digantungkan pada pandingdingan jabu Ruma, bahan dibuat dari rotan, kayu dan tali ijuk. 52. HOMBUNG (2) : Duplikat dari hombung Gorga (ukiran tradisional BATAK TOBA) Dipakai untuk tempat barang & Harta.HOMBUNG : Peninggalan lama, dibuat dari kayu pinasa, diukir motif gorga Batara Siang. Dipakai untuk tempat harta don barang pusaka lainnya. Hombung ini juga berfungsi sebagai dipan untuk tempat tidur pemiliknya (Kepala rumah tangga). 53. RUMBI (1) :Bahan dari batang pohon nangka, digunakan untuk tempat harta don barang pusaka. Koleksi ini berasal dari Lumban Gurning Kecamatan Porsea, umur ditaksir ratusan tahun. 54. RUMBI (2) : Bahan dibuat dari kayu nangka besar, fungsinya untuk tempat menyimpan harta benda dan barang pusaka. Diperoleh dari desa Hinalang Balige, umur ditaksir ratusan tahun. 55. HOTANG PARRAMBUAN : Dibuat dari rotan dianyam berbentuk periuk tanah digunakan untuk tempat pakaian, ulos dan lain-lain. 56. HUDON PARRAMBUAN : Hudon tano (periuk tanah besar) digunakan untuk tempat barang, pakaian, ulos dan sebagainya. 57. TAGAN : Tempat barang berharga (barang-barang Mas dan Perak) bentuk mini dari hombung motif Samosir dibuat dari kayu keras (Pokki). Diukir dalam bentuk dan komposisi yang harmonis. 58. SONDI : Sejenis tagan dari daerah Simalungun, fungsinya sama dengan tagan motif Samosir dibuat dari kayu nangka. 59. LAGE-TIAR : Dibuat dari “bayon login” = daun pandan, dianyam dipakai untuk alas/tempat duduk don tempat tidur.

Kalender Batak

 

Nama-nama hari dalam 1 bulan di Kalender Batak (Penangggalan):

1. Artia

2. Suma

3. Anggara

4. Muda

5. Boraspati

6. Singkora

7. Samisara

8. Artia ni Aek

9. Suma ni Mangadop

10. Anggara Sampulu

11. Muda ni mangadop

12. Boraspati ni Tangkup

13. Singkora Purasa

14. Samisara Purasa

15. Tula

16. Suma ni Holom

17. Anggara ni Holom

18. Muda ni Holom

19. Boraspati ni Holom

20. Singkora Moraturun

21. Samisara Moraturun

22. Artia ni Angga

23. Suma ni Mate

24. Anggara ni Begu

25. Muda ni Mate

26. Boraspati Nagok

27. Singkora Duduk

28. Samisara Bulan Mate

29. Hurung

30. Ringkar

 

ASTROLOGI BATAK

Sejak dulu ternyata nenek moyang orang Batak telah mengetahui perkiraan waktu dan rasi bintang, sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani dan bangsa Cina. Kelahiran seseorang dikatakan ’Masiboan Porda na do tu langgu ni sasabi, masiboan bagianna do tu si ulu balang ari’. Inilah hasil penelusuran Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing soal astrologi di Tanah Batak.

Ditemui METRO di Kantor Radio Suara Anugerah (Rasurah) milik Pemkab Tapteng di Pandan, Senin (12/1) kemarin, Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing tampak masih segar dan energik. Padahal, usianya sudah 70-an tahun. Bincang-bincang soal astrologi di Tanah Batak, mantan Kepala Stasiun RRI di berbagai kota ini mengatakan, dirinya tidaklah piawai. ”Saya hanya menelusuri dan mencoba menjelajahi pemikiran orang Batak dulu, khususnya para Datu bidang astrologi Batak di sepanjang Pantai Barat, Pantai Timur, serta pedalaman Tanah Batak,” katanya dengan nada merendah.

Dari hasil penelusuran tokoh yang sering memakai nama samaran Mamak Sulto ini, ada strata ilmuwan Batak. Stratifikasi intelektual atau tingkatan cendekiawan dalam susunan masyarakat Batak dahulu terdiri dari Guru, kemudian Datu, dan terakhir Ompung atau Ompu. ”Predikat Keguruan seseorang diperoleh dari pengamatan dan penelitiannya, kemudian mengajarkan kepada para Datu. Seorang Datu dipercaya sebagai manusia yang sarat dengan pengalaman, perguruan, maupun ilham yang diperoleh. Sedang Ompu diakui otoritas dan kebenaran kata-katanya, pengaruhnya terutama kepada keturunan dan generasi di belakangnya,” kata Dr Sudung. Jumlah Guru lebih sedikit, sedang jumlah Datu lebih banyak.

Beberapa Guru yang populer abad ke-16 di kalangan orang Batak antara lain Guru Tinandangan, Guru Hatia Bulan, Guru Ramiti, Guru Mangaloksa, Guru Manomba Bisa, Guru Patimpus, Guru Sananga Diaji, Guru Humundul, Guru Tatea Bulan, Guru Somalaing, dan beberapa lagi.

Sedangkan para Datu terdapat pada setiap induk marga, di antaranya Datu Pulungan, Datu Dalu, Datu Parmanuk Holing, Datu Mallatang Malliting, Datu Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung, Datu Jolma So Begu, Datu Parpansa Ginjang, dan lainnya. ”Ada juga Datu yang dibangkitkan menjadi Guru, sehingga memperoleh kedua predikat kebolehan itu,” kata Dr Sudung yang juga mantan wartawan ini.

Semua sumber ilmu pengetahuan guru dalam buku (pustaha) berawal dari Mulajadi Nabolon, yang mereka tulis sendiri dan ditambah hasil penemuan dan pengalaman baru. Ilmu itu diajarkan terbatas kepada para muridnya, terutama pada Datu. Juga ditulis dalam Buku Pustaha masing-masing guru. Salahsatu buku penting menyangkut ’Tingki’ (waktu), yang disebut parhalaan. ”Hampir semua guru memilikinya, dan juga digunakan para Datu setiap kerajaan. Terakhir, banyak para guru menyalinnya dan diberikan kepada para ’Datu’ untuk digunakan,” jelas Dr Sudung.

Mencermati berbagai sumber terutama dari bagian buku Pustaha, tulisan orang-orang Eropa/laporan mereka serta keterangan para orang tua, kesadaran orang Batak tentang Tingki (masa atau waktu) sudah sangat tinggi. ”Tingki atau waktu dalam satu hari pada awalnya terdiri dari 5 fase,”jelas Dr Sudung. Yakni Sogot, kemudian menjadi Pangului, selanjutnya Hos, kemudian Guling, dan terakhir Bot. Setelah disadari pembagian itu hanya terjadi di siang hari, maka guru lainnya mencatat waktu malam, yakni samon, sampinodom, tonga, tahuak manuk, dan terakhir torang. Begitulah sirkulasi seterusnya kembali sogot, pangului, hos, guling, bot, samon, Sampinodom, tonga, tahuak manuk, dan torang.

Terakhir para Guru dan Datu Jenius mengadakan pertemuan dan menyepakati, satu hari adalah 24 jam. Dan untuk siang hari, pembagian waktunya yakni Binsar mataniari pukul 6, Pangului pukul 7, Tarbakta pukul 8, Tarbakta Raja pukul 9, Sagang pukul 10, Humara Hos pukul 11, Hos Ari pukul 12, Guling pukul 13, Guling pukul 14, Dua Gala pukul 15, Sagala pukul 16, dan Bot Ari pukul 17.

Kemudian untuk malam hari dibagi sebagai berikut, Sundut Mataniari pukul 18, Samon pukul pukul 19, Hatiha Mangan pukul 20, Tungkap Hudon pukul 21, Sampinodom pukul 22, Sampinodom na bagas pukul 23, Tonga Borngin pukul 24, Haroro ni Panangko pukul 1, Tahuak Manuk Sahali pukul 2, Tahuak Manuk Paduahon pukul 3, Buha-buha Ijuk pukul 4, Torang Ari pukul 5.

”Dari pengamatan berikutnya, perbedaan antara hari demi hari disebut dalam istilah perkiraan 1 minggu, sebagaimana terdapat pada kalender Julian,” kata Dr Sudung. Hari Minggu disebut orang Batak Artia. Senin dinamai Suma, Selasa dinamai Anggara, Rabu disebut Muda, Kamis dinamai Boraspati, Jumat disebut Singkora, dan Sabtu disebut Samisara.

Uniknya, kata Dr Sudung lagi, kalau bangsa-bangsa lain memberi nama hari untuk setiap minggu itu sama, maka orang Batak, dari pengamatan dan pengalamannya, hari demi hari dalam setiap minggu ada perubahan. Karena itu, meski dasar-dasar hari itu sama, namun pada minggu kedua, nama hari berubah. Misalnya, hari Minggu pada minggu kedua dinamai Artia ini Aek, Senin disebut Suma Mangodap, Selasa dinamai Anggara Sampulu, dan seterusnya.

Yang istimewa, para Guru Batak zaman dulu menyadari bahwa setiap tanggal 15 pertengahan bulan adalah Bulan Purnama. Sehingga setiap hari tanggal pertengahan bulan tetap nama harinya, yakni dinamakan Tula. ”Mereka telah menyadari, bahwa rata-rata setiap bulan terdiri dari 4 minggu, dengan setiap hari diberi nama dengan 30 nama hari, dan ada 12 bulan dalam setahun. Mereka juga menyadari adanya tahun kabisat,” jelasnya.

Pengalaman mereka, dari 30 tahun ada 19 kali menggunakan Parhalaan dengan perkiraan hari 354 hari dalam setahun, dan 11 kali dalam 30 tahun menggunakan hari 355. Sehingga dalam penggunaan Parhalaan, dipakai adanya bulan 13 untuk penetapan hari/bulan/tahun. Dengan Parhalaan 2 jenis, yaitu satu yang bulannya 12 satu tahun, dan satu lagi untuk tahun kabisat dengan perkiraan bulan ke-13 dari 30 tahun itu. Sedang rata-rata seluruh bulan tetap dihitung 30 hari.

Perhitungan tahun Batak atau permulaan Tahun Batak dimulai saat terbenamnya Bintang Orion di ufuk Barat, atau saat terbitnya Bintang Scorpio (Hala) di langit sebelah Timur. ”Dengan demikian, tergambar hubungan Bulan-Bintang-Bumi, dan Matahari dengan manusia yang menghuni bumi,” jelasnya.

Para Guru dan Datu Batak juga menyadari perubahan musim kemarau dan musim penghujan serta musim pancaroba (peralihan). Itulah yang menjadi dasar dan pedoman untuk melakukan penanaman padi, penangkapan ikan, perburuan, maupun peperangan, serta pengaruh terhadap kesehatan dan penyakit.

Dalam astrologi Yunani yang banyak dianut dunia internasional, zodiak lebih dikenal nama-nama Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricoren, Aquarious, dan Pisces. Sedangkan di tanah Batak, zodiak atau Parmesana-12 dikenal dengan nama-nama: Marhumba Periuk (simbol hudon), Mena (simbol ikan), Gorda (simbol kambing), Marsoba (kupu-kupu), Nituna (cacing), Makara (kepiting), Babiat (singa), Hania (elang), Tola (pohon), Martiha (batu), Dano (air), dan Harahata (kodok).

Zodiak Yunani dan Parmesana-12 ada kemiripan dalam tanggal, tapi tetap berbeda meski tipis. Misalnya kepiting dalam astrologi Yunani adalah yang lahir tanggal 21 Juni-21 Juli. Sementara dalam Parmesana-12, makara (kepiting) adalah orang yang lahir tanggal 19 Juli-20 Agustus.

”Waktu atau partingkian bagi manusia yang kurang menyadari, terasa lama. Tetapi setelah dilalui, terasa singkat ketika tiba-tiba menyadari bahwa pagi telah berganti siang, dan gelap mulai menjelang malam, dan yang terjadi adalah penyesalan. Menyadari hal itulah, maka orang Batak tempo dulu pergi marguru atau mangalualu (bertanya) kepada Datu,” jelas Dr Sudung Parlindungan kepada METRO.

Oleh Datu, ditiliklah rasi bintang kelahiran seseorang dan diperkirakan dengan futurologi masa dulu, apa dan bagaimana dia, sesuai kemampuan terbatas sang Guru atau Datu meramalkannya. ”Benar tidaknya, terserah kepada masing-masing orang Batak tempo dulu itu,” kata Dr Sudung.

Parmesana-12 orang Batak mempunyai dasar perkiraan dan simbol zodiak sebagai berikut:

Kelahiran 9 Februari sampai 10 Maret dilambangkan dengan simbol hudon atau dalam bahasa ramal Marhumba Periuk. Ini mempunyai sifat sosial, umumnya mereka mudah menyesuaikan diri dengan orang lain.Banyak taktiknya dan disukai orang lain. Hanya saja sering pelupa, sehingga sering dianggap sebagai orang yang ingkar janji. Cocok menjadi guru, datu, dan tabib.

Kelahiran 11 Maret sampai 12 April dlambangkan dengan simbol ikan (mena), mempunyai sifat suka mengalah, lincah, dan agak kikir serta suka bergaul dan rukun. Keberuntungannya cenderung menyukai perdamaian daripada keributan. Cocok menjadi seniman, sopir.

Kelahiran 13 April sampai 14 Mei dilambangkan dengan simbol kambing (gorda) mempunyai sifat agak cengeng dan suka akan hal-hal baru. Daya pikirnya luas dan selalu ingin berkembang dan liar. Sifat pantang mundurnya menyebabkan dia dapat menjadi pemimpin yang sukses. Cocok menjadi pegawai, guru, Datu, pengembara, wartawan, tentara.

Kelahiran 15 Mei sampai 16 Juni disebut Marsoba, dilambangkan dengan simbol kupu-kupu. Mempunyai sifat sabar, telaten, dan lamban menyesuaikan diri. Ia pemikat yang jitu. Tapi kalau sudah marah, bisa frustasi dan hancur-hancuran. Dia pandai berhemat, tetapi kalau menginginkan sesuatu tidak menanggung resiko apapun. Cocok menjadi seniman, perawat, juru runding, pemasaran, dan pengusaha.

Kelahiran 17 Juni sampai 18 Juli disebut Nituna, dilambangkan dengan cacing. Mempunyai sifat sosial. Sifatnya yang kurang baik adalah pendapatnya yang sering berubah dengan kata lain tidak berpendirian tetap. Tetapi daya pikirnya luas dan jiwanya selalu hidup tak senang pada perubahan baru. Cocok menjadi pionir, serdadu, polisi, perencana, dan pelaut.

Kelahiran 19 Juli sampai 20 Agustus, disebut Makara, dilambangkan dengan simbol kepiting. Mempunyai perasaan sangat halus dan suka menyendiri. Sifat penyayangnya amat besar, terutama terhadap binatang. Golongan ini tidak senang foya-foya, lebih senang hidup di rumah daripada bepergian. Cocok menjadi serdadu, penyawah, saudagar, tabib, dan rohaniawan.

Kelahiran 21 Agustus sampai 22 September disebut Babiat, dilambangkan dengan singa. Ia bersifat jujur, pemberani, dan terus terang. Karena itu di mana-mana ia dipercaya orang. Sayangnya dia sangat mudah naik darah walaupun cepat juga menjadi baik. Cocok menjadi serdadu, guru, Datu, pendekar, dan pelopor.

Kelahiran 23 September sampai 24 Oktober, disebut Hania dilambangkan dengan simbol elang yang berarti kesucian. Sifatnya yang tampak adalah kritis, jadi cocok kalau jadi kritikus. Dia tidak mau menerima apa saja yang diterangkan seseorang dan pekerjaannya selalu rapi. Golongan ini tidak senang menonjolkan diri di depan umum, dan firasatnya amat tajam. Cocok menjadi pedagang, saudagar, pelaut, dan pionir.

Kelahiran 25 Oktober sampai 26 November disebut Tola, dilambangkan dengan pohon. Biasanya tidak mudah tersinggung. Perasaannya halus. Dalam mengambil keputusan kadang-kadang tampak lambat sehingga sukar dipengaruhi. Kurang pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan dan senang berpakaian indah. Cocok menjadi guru, petani, padri, tabib, dan pimpinan.

Kelahiran 27 November sampai 28 Desember dinamai Martiha, dilambangkan dengan simbol batu. Mmepunyai semangat kuat dalam menempuh segala hal. Sifatnya yang agak aneh ialah sering merahasiakan sesuatu dan tertutup. Biasanya tabah dalam menghadapi segala rintangan. Ulet dan tidak suka bersenda gurau. Cocok menjadi datuk, pendekar, peneliti, serdadu.

Kelahiran 29 Desember sampai 30 Januari disebut Dano, dilambangkan dengan air. Mempunyai sifat berani mengadu untung. Biasanya mempunyai tubuh yang kuat hingga cocok menjadi olahragawan. Cerdas dan rajin bekerja. Berjiwa sosial tinggi tetapi kadang-kadang sombong. Cocok menjadi rohaniawan, tabib, guru, intelijen.

Terakhir kelahiran 31 Januari sampai 8 Februari disebut Harahata, disimbolkan dengan kodok, mempunyai sifat tekun mengerjakan sesuatu, pantang mundur. Tetapi ia tidak mudah percaya akan omongan orang. Cocok menjadi penyanyi, sastrawan, pengarang, budayawan, wartawan, penulis.

”Itu hanya gambaran dasar dari Parmesana-12. Masih ada beberapa ciri khas masing-masing, selengkapnya ada di buku yang sedang saya susun, berjudul ’Menelusuri Astrologi di Tanah Batak’, yang diharapkan dapat segera dicetak,” kata Dr Sudung.

Dalam menilik futurologi seseorang, jelas Dr Sudung lagi, Guru dan datu biasanya menkrosceknya dengan panggorda na-pitu atau na walu. ”Datu atau Guru yang mempunyai talenta di bidang itu akan membicarakan nasib peruntungan seseorang berdasarkan pembicaraan roh melalui mulutnya, tentang hari baik, hari buruk, yang sebenarnya bisa diterjembahkan secara logika masa kini. Karena bisa dipelajari lewat pustaha,” katanya.

Maniti ari! Mungkin orang Batak pada umumnya pernah mendengar istilah itu. Maksud maniti ari adalah mencari hari dan bulan baik. Biasanya dilakukan untuk mencari tanggal baik untuk menggelar pesta perkawinan atau pesta-pesta besar lainnya. Maniti ari itu istilah sekarang ibarat prakiraan cuaca, tetapi ala kalender Batak.

Menilik kalender Batak sebelum menetapkan tanggal pesta, barangkali umum terjadi di sejumlah keluarga Batak yang masih memegang tradisi. Bagi keluarga yang tak paham cara ’melihat’ kalender Batak atau tak punya kalender Batak, boleh berkonsultasi pada ’orang pintar’ untuk memilihkan hari baik dan bulan baik.

Hasil penelusuran Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing dari sejumlah Datu bidang astrologi Batak di sepanjang Pantai Barat, Pantai Timur, serta pedalaman Tanah Batak, dalam maniti ari, umumnya suhut atau yang empunya hajat pestalah yang pertama menentukan bulan berapa rencananya pesta akan digelar. Nah, berikutnya Datu yang dimintai jasa akan me-recek tanggal dan bulan dimaksud dalam parhalaan (kalender Batak).

Ada sistem perhitungan yang dimiliki oleh si Datu. Dalam Kalender Batak, nama-nama hari berbeda untuk 30 hari, meski dengan nama dasar yang sama. Misalnya, hari kedua minggu pertama disebut suma, hari kedua minggu kedua disebut suma ni mangadop, hari kedua minggu ketiga disebut suma ni holom, dan hari kedua minggu keempat disebut suma ni mate.

Jumlah bulan ada 12, yakni Sipaha Sada (April), Sipaha Dua (Mei), Sipaha Tolu (Juni), Sipaha Opat (Juli), Sipaha Lima (Agustus), Sipaha Onom (September), Sipaha Pitu (Oktober), Sipaha Walu (Nopember), Sipaha Sia (Desember), Sipaha Sampulu (Januari), Li (Pebruari), dan Hurung (Maret).

Dalam mencari tanggal dan bulan yang baik, Datu biasanya memadukan Parmesana-12 (sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya), Panggorda na-pitu atau walu (elang, ular, burung pipit, embun, singa, borang-borang, anjing, dan air), dikroscek dengan parhalaan (kalender).

”Penggunaan Panggorda Vs Parmesana-12 tidak selamanya dilakukan, apabila Datu telah yakin pilihannya akan hari. Apabila tidak yakin, barulah dilakukan rechecking dengan panggorda. Bila Parmesana-12 menang, maka tetap dianggap hari baik,” jelas Dr Sudung.


Adapun para astrologi dan Datu Batak zaman dahulu menerjemahkan arti parhalaan sebagai berikut:

Pada hari atau minggu di mana terdapat tanda kepala dan jepitan kalajengking, menandakan kerugian mengadakan pesta besra. Demikian juga bila ada tanda perut ataupun ekornya. ”Dan jika ada bulatan berisi titik besar, sebaiknya dihindari sebagai hari menikahkan anak perempuan/laki-laki,” kata Dr Sudung.

Tanda kali dan bulatan (XO) diartikan sebagai saat yang baik untuk menerima uang dan menagih uang dari orang lain. Tanda H atau tanda satu disebut ’Simonggalonggal’. Pada hari di mana tanda itu ada, disarankan menghindari memasuki rumah untuk rumah yang baru selesai dibangun, atau akan ditempati penghuni baru.

Tanda X (kali) diartikan untuk memancing ikan, atau kalau mengadakan pesta disebut sebagai waktu yang baik untuk menyajikan pangupaon dengan ihan. Adapun dua bulatan menandakan buah atau disebut Ari Parbuea, dipercaya sebagai saat yang tepat untuk bertanam atau mengadakan pesta perkawinan.

Tanda 10 (angka satu dan angka kosong), adalah tanda alang kepalang atau hari tanggung. Maksudnya, pekerjaan yang dilakukan pada hari itu tidak tuntas. ”Jadi hindari untuk menyelenggarakan perundingan komersil,” kata mantan staf ahli Menteri Penerangan lagi.

Tanda kail berdiri bermata dua dan juga tanda V terbalik biasanya adalah hari yang dihindari untuk melakukan kegiatan, karena dipercaya membawa kerugian. Begitu juga dengan tanda hala (kalajengking) sungsang dengan simbol bagian kepala hala membarat (hala sungsang) juga disebut kurang baik.

Tanda atau lambang hala ke utara adalah hari matahari mati. Partilaha, artinya sering terjadi kematian. Tanda getar suara adalah juga hari yang dihindari, karena tanda itu berarti banyak suara-suara sumbang yang pro dan kontra dan oposan.

Tanda bulatan kecil disebut disebut ari na walu, hari ke delapan. Dipercaya, seorang suami akan kehilangan istri atau sebaliknya, bila mengadakan pesta pada hari yang ada tanda dimaksud.

Tanda XI (sebelas Romawi), disebut ’ari pangugeuge’, hari yang kurang baik berpesta, tetapi sangat baik untuk berburu babi hutan. Tanda kotak hitam adalah hari netral, tergantung baik buruknya pada niat dan keinginan manusia.

Dr Sudung lebih lanjut menjelaskan, tidak banyak perbedaan peramalan antara Datu di pedalaman dengan Datu di pesisir Pantai Barat dan Timur. Hanya saja, susunan dan penetapan tanda parhalaan dan perhitungan setiap 30 tahun (tahun-tahun kabisat), menggeser pemakaian parhalaan, menimbulkan perbedaan penggunaan simbol/lambang pada parhalaan 13 dan parhalaan 12 bulanan.

Orang-orang Batak yang tinggal di Pantai Barat dan di Pantai Timur, selain menggunakan kalender Batak, juga dikaitkan dengan perkembangan bintang di langit untuk melakukan pelayaran.

Sumber : dameambarita.wordpress.com

 

DALIHAN NA TOLU

Sistem kekerabatan orang batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut Dalihan Na Tolu (bahasa toba) atau tolu sahundulan (bahasa simalungun).
Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:
  • Pertama, Somba Marhula-hula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri.
  • Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita)
  • Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga)
Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hula-hula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.3 posisi penting dalam kekerabatan orang batak, yaitu:
1.      Hula hula atau tondong, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut somba somba marhula hula yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hula-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang tekananya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata Somba di sini tekanannya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hula-hula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hula-hula. Tanpa hula-hula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
2.      Dongan tubu atau sanina, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut manat mardongan tubu, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan. Manat mardongan tubu/sabutuha, suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati –hati dengan teman semarga. Kata orang tua-tua “hau na jonok do na boi marsiogoson” yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan dll. Inti ajaran Dalihan Na Tolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati(masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan Na Tolu menjadi media yang memuat azas hukum yang objektif.
3.      Boru, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut elek marboru artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat. Elek Marboru/lemah lembut tehadap boru/perempuan berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita(anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang. tanpa boru, mengadakan pesta suatu hal yang tidak mungkin dilakukan.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi hula hula/tondong, ada saatnya menempati posisi dongan tubu/sanina dan ada saatnya menjadi boru.
Dengan Dalihan Na Tolu, adat batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang camat. Itulah realitas kehidupan orang batak yang sesungguhnya.lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan sistem demokrasi orang batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut.
Sumber :
1.      Jan. S Aritonang, dkk, Beberapa Pemikiran Menuju Dalihan Natolu, (Jakarta:Dian Utama, 2006).
2.      J.C Vergouwen,Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba,(Yogyakarta: Lkis, 2004).
3.      Batara Sangti,Sejarah Batak,(Balige: Karl Sianipar Company, 1977).
4.      H.P. Panggabean,Pembinaan NilaiAdat Budaya Batak Dalihan Natolu,(Jakarta: Dian Utama, 2007).

Tugas Boru Parlopes dan Sihunti Ampang

Biasanya dalam setiap ulaon unjuk (pesta pernikahan Batak), selalu ada orang yang dihunjuk menjadi Boru Parlopes dan Sihunti Ampang.
Siapakah yang menjadi boru Parlopes dan Sihunti Ampang ?
Boru Parlopes dan Sihunti Ampang biasanya adalah pasangan suami- istri dimana si perempuan adalah boru tubu (putri kandung atau saudari perempuan dari Hasuhuton Paranak/yang  menikahkan putranya. Contoh: saat ini saya dikaruniakan 1 orang putra (Hitado Managam) dan adiknya 1 orang putri (Namora Gabe). Jika nanti Hitado Managam menikah maka Boru Parlopes dan Sihunti Ampang adalah saudara perempuan saya yakni Amangboru dan Namborunya si Agam (Lae dan Ito kel. Manullang, Gultom, Siwu, Silaban, Tampubolon maupun Pohan – mardos ni roha ma nasida, namun umumnya yang paling tua).
 Tugas dan Peran boru Parlopes dan Sihunti Ampang
Dikatakan boru Parlopes karena seiring dengan tugasnya sebagai “ikon” parhobas yang melayani dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pada saat ulaon unjuk. Berikut gambaran umum tugas boru Parlopes :
  1. Mengecheck dan memastikan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan pesta unjuk. (termasuk ampang tempat manjalo tumpak, karung tempat beras dan tempat ulos, kantong plastik untuk jambar, demban/daun sirih  untuk pinggan panungkunan, dll).
  2. Mengkoordinir sesama boru (angka parhobas) sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Ada yang bertugas sijalo dengke dan sekaligus silehon ulak ni dengke, sijalo boras (yg memasukkan ke karung) dan sekaligus silehon ulak ni tandok, yang menghantarkan para Hulahula dan Tulang ke tempat yang telah disediakan.
  3. Siap dan Stand by diperintah Raja Parhata(duduk disamping protokol dan sudah menggunakan sarung di pinggang). Tugasnya diantaranya menghantarkan microphone dan daftar Hulahula dan Tulang ke pihak Hulahula ni paranak dan menghantarkan pinggan panungkunan.
Dikatakan Sihunti Ampang karena dia lah yang bertugas manghunti (menjinjing diatas kepala) boan-boan berupa sipanganon na tabo yang dibawa pihak paranak ke rumah pihak parboru. Secara umum di JABODETABEK Sihunti Ampang akan menghunti (menjinjing) makanan dalam wadah Ampang yang ditutup dengan ulos pada saat ulaon Sibuhabuhai.
Note: yang harus dipahami perihal ulos tutup ampang adalah  jika Sibolang tutup ni jual berarti menandakan bahwa parjuhutnya lomuk (pinahan lobu/B2), jika Ragi Hotang tutup ni jual berarti menandakan bahwa parjuhutnya sisemet imbulu (sapi/lembu), jika Pinunsaan atau Ragi Idup berarti menandakan bahwa parjuhutnya sitingko tanduk(kerbau). Artinya jika nanti siang diacara adat  tudu-tudu sipanganon adalah sapi maka tutup ampang yang di jinjing sewaktu sibuhabuhai adalah Ragi Hotang, jangan sampai tutup ampang Ragi Hotang padahal tudu-tudu sipanganon lomuk (pinahan lobu/B2).
Disamping itu tugas lainnya adalah membantu suaminya terutama poin 1 tugas boru Parlopes. Filosopinya adalah dia ikut membantu menanggung beban berat yang di tanggung Hulahulanya (saudara laki-lakinya). Pada saat acara mangulosi Sihunti ampanglah yang bertugas pasahat piso-piso (sejumlah uang dalam amplop yang diberikan kepada setiap orang rombongan Hulahula dan Tulang setelah menyampirkan ulos).
Pasangan boru Parlopes dan Sihunti Ampang akan menerima Ulos Sihunti Ampang. Secara umum ulos yang akan mereka terima adalah jenis Ragi Hotang.

PEMANGGILAN “APPARA/AMPARA” DAN PENEMPATANNYA

A
ppara/Ampara adalah istilah yang digunakan bagi orang Batak, yang menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara satu pihak dengan pihak lain di dalam orang Batak. Appara memiliki makna dalam istilah Batak ialah ‘Dongan Tubu’, jadi kata ‘Appara/Ampara’ digunakan bagi orang Batak yang memiliki marga yang sama, contohnya ; ketika si A yang bermarga Siadari bertemu dengan si B yang bermarga Siadari yang bertemu di perantauan misalnya dan belum diketahui sama sekali silsilah antara si A dengan si B sehingga mereka memanggil ‘Appara/Ampara’. Namun setelah mereka saling martarombo dan akhirnya diketahui setelah mereka martarombo bahwa misalnya si A adalah adalah adik dari si B, atau si B adalah Amanguda si B atau bahkan bisa saja si A adalah opung dari si B walaupun usia antara si A dan si B tidak terpaut terlalu jauh.
            Namun istilah Apara/Ampara bisa digunakan bagi lain marga namun satu pomparan dongan tubu, misalnya ; si C yang bermarga Sitio bertemu dengan si D yang bermarga Sidabutar. Akan tetapi istilah Appara/Ampara sebenarnya lebih tepat digunakan hanya pada sesame marga, seperti contoh yang pertama di atas tadi. Di dalam contoh yang kedua di atas tadi sudah jelas bahwa Sidabutar merupakan abang dari Sitio, dan Sitio adalah anggi partubu ni Sidabutar jadi kurang tepat dan salah penempatan apabila Sitio memanggil Sidabutar dengan sebutan Appara, begitu juga sebaliknya.Istilah Appara digunakan bagi sesama marga yang saling bertemu dimana mereka belumlah saling mengenal dan tidak mengetahui partuturan antara satu dengan yang lainnya sesama marga mereka.
            Banyak orang Batak menggunakan kata Appara bukan hanya kepada sesama marga namun ke marga yang masih dongan tubu mereka. Terkadang mereka menggunakan istilah Appara/Ampara  kepada marga lain tetapi masih dongan tubu karena factor umur, contohnya ; si E yang bermarga Napitu bertemu dengan si F yang bermarga Siallagan, si E berusia 25 tahun dan si F berusia 21 tahun,si E mengetahui bahwa si F adalah abangnya namun karena usia si F terpaut 4 tahun lebih muda dari si E, akhirnya si E memanggil Appara, begitu juga sebaliknya, karena si F tahu si E adiknya maka si F memanggil Appara kepada si E. Sesungguhnya tidak ada yang salah dari pemanggilan diatas, namun alangkah baiknya bila si E tidak segan atau sungkan memanggil si F dengan panggilan abang, bila malu si E bisa memanggil namanya saja, atau Appara si Doli. Begitu juga dengan si F, lebih baik dan berharga bila memanggil si E Anggia atau Amanguda, Amanguda disini bukan berarti bahwa dia adalah adik dari bapa kita, tetapi sebagai bentuk penghormatan karena usianya lebih tua dari kita.
            Ada juga bahkan marga yang harusnya dipanggil abang memanggil abang kepada marga yang menjadi adiknya karena usia tadi dan juga karena rasa tidak enak memanggil nama atau anggia atau memangil adik. Contohnya : si G yang bermarga Sidabalok yang berusia 22 tahun memanggil abang ke si H yang bermarga Rumahorbo yang berusia 28 tahun. Justru ini akan membuat ketika mereka sudah saling berumah tangga akan terus berlanjut karena terbiasa, dan si G memanggil istri dari si H kakak,padahal istri si H adalah anggi borunya yang harusnya si G memangil ‘inang’ kepada istri si H. Seharusnya rasa tidak enak, rasa sungkan itu bisa diganti daripada memanggil abang menjadi memanggil amanguda, namun ke istrinya tetaplah inang, atau ketika sudah berumah tangga bila si H sudah memilik anak si G bisa memanggil si H ‘Ama ni Z atau Ama ni …. (nama anaknya)’, seperti itu lebih baik dan sangat baik. Hal tersebut sangat sering terjadi di marga yang lain bukan hanya di Pomparan Raja Nai Ambaton, hal tersebut terjadi karena rasa tidak enak, sungkan, tidak adanya pengetahuan dari orang tua, juga dari pribadi masing-masing individu yang memang kurang begitu peduli akan hal-hal yang kecil. Terutama bagi Parna, yang merupakan marga terbanyak di suku Batak, yang hamper ± 70 marga, walaupun memang ada beberapa versi dari masing-masing marga Parna karena masalah siakkangan dan sianggian, namun itu hanyalah sebagian kecil saja, namun di Si Opat Ama, di Ompu Tuan Binur misalnya sudah jelas siapa siabangan dan sianggian sehingga baiknya istilah diatas bisa diterapkan, sehingga adat istiadat, budaya, sejarah, silsilah dan semua yang berkaitan tentang Batak tidaklah hilang begitu saja sehingga dapat ditanamkan pada generasi muda yang kedepannya akan lebih peduli dan bangga akan identitasnya sebagai orang Batak.

Ruhut–ruhut Paradaton

Patokan dan aturan adat adalah acuan atau cerminan untuk melaksanakan adat didalam sukacita maupun dukacita yang pelaksanaannya harus didasarkan pada falsafah “ DALIHAN NATOLU “ serta memperhatikan nasihat nenek moyang ( Poda Ni Ompunta)

  • Jolo diseat hata asa diseat raut ( di bicarakan sebelum dilaksanakan)
  • Sidapot solup do na ro (mengikuti adat suhut setempat)
  • Aek Godang tu aek laut, dos ni roha nasaut (Musyawarah mufakat ).

1. Pada acara pesta perkawinan yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang ñaopat :

a. Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos :

1. Ulos Pansamot : Orang tua pengantin

2. Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin

3. Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin

4. Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin

b. Pihak Parboru (pengantin perempuan) yang terima sinamot :

1. Sijalo Bara / Paramai : Abang / adik pengantin

2. Sijalo Upa Tulang : Tulang pengantin

3. Sijalo Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin atau

Simandokhon Ito pengantin *(sesuai Hasuhuton&Tonggo Raja).

4. Sijalo Upa Pariban : Kakak atau Namboru Pengantin

c. Urutan Pelaksanaan:

1. Ulos Hela diberikan setelah Ulos Pansamot.

2. Sijalo Paramai diberikan setelah sinamot nagok diterima Suhut Parboru.

2. Pada acara Adat Perkawinan yang harus diperhatikan :

a. Tintin marangkup diberikan kepada Tulang Pengantin pria, bila perkawinan dengan

Pariban Kandung (Boru Tulang), tidak ada Tintin Marangkup.

b. Jumlah Tintin Marangkup, sesuai kesepakatan demikian Panandaion bila ada.

c. Ulos yang diturunkan (tambahan) tidak boleh melebihi tanggungan Parboro.

d. Uang Pinggan Panungpunan, disesuaikan dengan besarnya Sinamot.

e. Undangan pada acara adat Boru Sihombing atau Bere Sihombing, suhu – suhu Ompu yang menerima Sinamot / Tintin Marangkup / Upa Tulang , wajib memberikan ulos Herbang, selain yang memberi ulos Herbang, boleh memberi uang (pembeli ulos).

Pada Acara Adat Kematian (meniggal dunia), ulos yang berjalan dan acara sesuai tingkat kematian :

1. Meninggalnya dari usia anak-anak sampai usia berkeluarga :

a. Anak-anak dan Boru Sihombing remaja : Lampin atau Saput dari orangtua.

b. Remaja / Pemuda Sihombing : Saput dari Tulang-nya.

c. Kembali dari makan tidak ada acara adat lagi.

2. Meninggal Suami / Isteri :

a. Tingkat kematian ditetapkan dalam Parrapoton / Tonggo Raja.

b. Ulos Saput / Tutup Batang Suami dari Tulang-nya, Ulos Tujung/ Sampetua Istri dari Hula – hula.

c. Ulos Saput / Tutup Batang Istri dari Hula – hula, Ulos Tujung/ Sampetua Suami dari Tulangnya.

d. Urutan pelaksanaan : Saput lebih dulu baruTujung (berubah sesuai kondisi).

e. Tingkat kematian Sarimatua, kembali dari makam ada Acara Buka Tujung, bagi yang masih menerima Tujung.

f. Tingkat kematian Saurmatua, kembali dari makam ada Acara Buka Hombung.

g. Suami meninggal, Tulang-nya Siungkap Hombung; Istri meninggal, Hula-hulanya.

Parjambaran

Pada setiap Acara Adat Pesta Perkawinan dan kematian berjalan Parjambaran, pada

dasarnya sebelum pelaksanaan harus dibicarakan lebih dahulu :

1. PARJAMBARAN DI ACARA ADAT PESTA PERKAWINAN, PANJUHUTI-NYA PINAHAN / SIGAGAT DUHUT.

a. Mengkawinkan anak laki – laki :

- Bila adatnya alap jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro

- Bila adatnya Taruhon Jual :

Osang utuh diparanak, untuk diberikan kepada hula-hula (Sijalo Tintin Marangkup), ihur-ihur (Upa Suhut) diparanak dan diberikan Ulak Tando Parboru,

Somba – somba dan soit dibagi dua dan parngingian (kiri) di Paranak :

(1). Somba – somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.

(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale-ale, Dongan Sahuta, dll.

(3). Parngingian / Parsanggulan untuk Boru / Bere.

(4). Ikan (dengke) dari Parboru untuk Hasuhuton.

b. Mengawinkan anak Perempuan :

- Bila adatnya Taruhon Jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro.

- Bila adatnya Taruhon Jual :

Osang Utuh di Parboru untuk diberikan ke Hula-hula dan Tulang Rorobot.

Ihur – ihur (Upa Suhut) di Parboru untuk Hasuhuton

Somba – somba dan Soit dibagi dua dan parngingian(kanan) di Parboru :

(1). Somba –somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.

(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale – ale, Dongan Sahuta, dll.

(3). Parsanggulan / Parngingian untuk Boru / Bere.

  1. PARJAMBARAN DI ACARA KEMATIAN SARI / SAURMATUA, BOAN SIGAGAT DUHUT (Contoh) :

Ulaon : Borsak Simonggur.

Hasuhuton : Hutagurgur.

Bona ni Hasuhutin : Tuan Hinalang.

Suhut Bolon : Datu Parulas.

A. DONGASABUTUHA

1. Panambuli : Anggi Doli Hariara.

2. Pangalapa / Pamultak : Raung Nabolon.

3. Panambak / Sasap : Dongan Tobu.

4. Ihur – ihur / Upa Suhut : Datu Parulas.

5. Uluna / Sipitudai : Jambar Raja (Parsadaan dan Punguan)

Orang biasanya diberikan ke Protokol dan Sitoho-toho.

6. Ungkapan : Haha Doli Suhut Bolon.

7. Gonting : Anggi Doli Suhut Bolon.

B. BORU / BERE / IBEBERE

1 . Tanggalan Rungkung Partogi : Boru ni Prsadaan.

2. Tanggalan Rungkung Mangihut : Boru ni Punguan.

3. Tanggalan Rungkung Bona – bona : Boru Diampuan/Bere – Ibebere.

C. HULA – HULA

1. Tulan Bona : Pangalapan Boru/Hula-hula Tangkas.

2. Tulan Tombuk : Namamupus/Tulang.

3. Somba – somba Siranga : Tulang Rorobot, Bona Tulang, Bona Hula.

Somba – somba Nagok :Bona na ari.

4. Tulan arsiat (Hula-hula, Haha Anggi, & Anak Manjae)

D. DONGAN SAHUTA / RAJA NARO.

1. Botohon : Sipukkha Huta/Dongan Sahuta.

2. Ronsangan : Pemerintah setempat.

3. Soit Nagodang : Paariban, Ale-ale, Pangula ni Huria, Partungkoan.

4. Bonian Tondi : Pangalualuan ni Nipi (teman curhat).

5. Sitoho-toho : Surung-surung ni namanggohi adat (orang yang sering

datang).

6. Pohu : Penggenapi isi tandok Hula-hula

7. Sohe/Tanggo : Penggenapi jambar yang belum dapat, dan lain-lain.

3. PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN

A. NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU)

1. Osang-osang : rahang bawah

2. Parngingian : kepala bagian atas

3. Haliang : leher

4. Somba-somba : rusuk

5. Soit : persendian

6. Ihur-ihur/Upa Suhut : bagian belakang sampai ekor

Parjambaran Namarmiak – miak di Humbang

(Oleh : Ompu Natasya L. Toruan )

B. SIGAGAT DUHUT

1. Uluna/Sipitu dai : kepala atas dan bawah (tanduk

namarngingi dan osang)

2. Panamboli : potongan leher (sambolan)

3. Pangalapa/Pultahan : perut bagian bawah (tempat belah)

4. Panambak/Sasap : pangkal paha depan

5. Ungkapan : pangkal rusuk depan

6. Gonting : pinggul/punggul

7. Upa Suhut / Ihur-ihur : bagian belakang sampai ekor

8. Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan)

9. Tulan Bona : paha belakang

10. Tulan Tombuk : pangkal paha belakang

11. Somaba-somba Siranga : rusuk-rusuk besar

12. Somaba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang)

13. Tulan : kaki di bawah dengkul

14. Botohon : paha depan

15. Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk)

16. Soit Nagodang : persendian

17. Bonian Tondi : pangkal rusuk iga

18. Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah

19. Pohu : bagian-bagian kecil

20. Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan

Parjambaran Sigagat Duhut di Humbang

( Oleh Drs. Togap L. Toruan)

MANGADATI

Mangadati adalah pelaksanaan ”menerima.membayar” adat perkawinan (marunjuk) yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya, dimana kedua belah pihak orangtua sepakat, adatnya dilaksanakan kemudian dan atau kawin lari (mangalua) dimana acara ini dilaksanakan pihak pengantin laki-laki ( Paranak). Karena itu ”mangadati” tidak sama dan bukanlah manjalo sulang-sulang ni pohompu.

A. Tahapan yang harus dipenuhi sebelum Mangadati :

1. Pada acara partangiangan (pengucapan syukur) pemberkatan nikah, Paranak wajib mengantar ”Ihur-ihur” kepada pihak pengantin perempuan (Parboru) sebagai bukti bahwa putrinya telah di-paraja (dijadikan istri).

2. Pihak paranak melakukan acara manuruk-nuruk (suruk-suruk) meminta maaf dengan membawa makanan adat kepada pihak Parboru(hula-hula).

3. Pihak Paranak melakukan pemberitahuan rencana ”mangadati” kepada pihak Parboru, dengan membawa makan adat. Acara ini merancang (mangarangrangi) ”Somba ni uhum: (sinamot), ulos herbang, dan yang berkaitan dengan mangadati.

B. Acara ”mangadati” dilaksanakan di tempat pihak Paranak, sehinga pelaksanaan sama dengan pesta adat ”taruhon jual”, yakni pihak Parboru datang dalam rombongan membawa beras, ikan, dan ulos.

C. Parjambaran: ”Sidapotsolup do naro”

MENDAMPINGI, MANGAMAI, MANGAIN

 Pengertian umum adalah suatu proses untuk perkawinan campuran antara anaka / boru dengan anak/boru suku/bangsa lain (Marga Sileban), dimana pelaksanaanya dilakukan sesuai dengan adat Batak. Penerapannya dilakukan sesuai tahapan dan aturan masing-masing sebagai berikut :

MENDAMPINGI. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak, Marga Sileban cukup meminta kepada satu keluarga Sihombing yang mau mendampingi dengan fungsi sebagai wakil/juru bicara/Raja parhata, dengan demikian :

  1. Mendampingi Parboru, Sijalo Sinabot harus Marga Sileban, yang mendampingi hanya menerima uang kehormatan saja.
  2. Mendampingi Paranak, Sijalo Ulos Suhi ni Ampang Naopat harus keluarga suku lain (Marga Sileban), yang mendampingi hanya menerima Ulos Pargomgom.
  3. Yang mendampingi tidak boleh melakukan Tonggo / Ria Raja dan Papungu Tumpak.

MANGAMAI . Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan na marmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangamai dihadapan Dongan Tubu, Boru/Bere, Dongan Sahuta.

Dengan restu hadirin, yang Mangamai mangupa dengan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan tahapan adat perkawinan yang dimaksud pihak Marga Sileban, kemudian Marga Sileban memberikan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua hadirin. Sehingga yang diamai dengan yang Mengamai sudah menjadi Dongan Sahundulan yang sifatnya permanen.

Dalam hal Mangamai Paranak, yang menerima ulos diatur sebagai berikut :

Ulos Pansamot : Orangtua kandung Marga Sileban.

Ulos Paramaan : Yang Mangamai.

Ulos Todoan : Marga Sileban atau keluaga yang Mengamai.

Ulos Sihunti Ampang : Boru yang Mengamau atau Marga Sileban.

Ulos seterusnya diatur pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.

Tintin Marangkup tetap harus diberikan ke Tulang pengantin pria Marga Sileban.

Dalam hal Mangamai Parboru, yang menerima Sinamot/tuhor diatur sebagai berikut :

Sinamot nagok : Orangtua kandung Marga Sileban.

Paramai : yang Mengamai.

Todoan : Marga Sileban atau yang Mengamai.

Pariban : Boru yang Mengamai atau Boru Marga Sileban.

Upa Tulang harus diberikan kepada Tulang pengantin wanita Marga Sileban.

Panandaion/Sipalas roha diatur pembagiaanya sesuai kesepakatan.

MANGAIN. Marga Sileban yang berkehendak anaknya (wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak(pria) Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan namarmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangain dihadapan Dongan Tubu,Boru/bere, Hula-hula/Tulang, Dongan Sahuta.

Tahapan Pelaksanaan:

  1. Marga Sileban atau pendampinganya menyerahkan tudu-tudu sipanganon.
  2. Marga Sileban menyerahkan putrinya kepada yang Mangain.
  3. Yang Mangain, marmeme dan manghopol dengan Ulos Mangain.
  4. Hula – hula yang Mangain (Tulangna) memberikan ulos parompa.
  5. Marsipanganon.
  6. Hata Sigabe-gabe.

Yang Mangain akan menempatkan yang diain pada urutan anggota keluarga yang tidak mengubah Panggoran (buha baju) yang sudah ada. Selanjutnya, keluarga yang Mangain bertanggung jawab melaksanakan kewajiban adat Batak kepada yang diain. Pada acara perkawinan yang diain, yang menerima Sinamot Nagok dan Suhi ni Ampang Naopat adalah yang Mangain dan keluarga. Orangtua kandung marga Sileban menerima Sinamot(panandaion) sebagai penghargaan atau penghormatan.

Pada dasarnya kedudukan Anak atau Boru yang Didampingi, Diamai, Diain, tidak sama, dan tidak punya kaitan apapun dengan ”pewarisan”. Masing masing hanya terbatas pada proses adat yang dilakukan.

MANGANGKAT /MANGADOPSI

Suatu proses seorang anak (pria atau wanita) masuk dalam keluarga menjadi anak/boru, baik karena belum mempunyai keturunan maupun karena suatu hal.

  1. Meminta persetujuan Haha/Anggi dan Ito, serta Hulua-hula(sekandung).
  2. Mengurus kelengkapan dari catatan sipil.
  3. Mengurus babtisan dari gereja.
  4. Melakukan pengukuhan secara adat dihadapan :

- Dongan Tubu

- Hula – hula dan Tulang

- Boru / Bere

- Dongan Sahuta

- Raja Bius (Parsadaan dan Punguan)

5. Untuk acara pengukuhan Boru (putri) oleh namarmiak-miak, tetapi untuk pengukuhan anak (putra) sebaiknya sigagat duhut, karena kehadirannya. Selain pewaris juga akan menjadi penerus keturunan.

Tahapan pelaksanaan :

  1. Penjelasan tentang tata cara.
  2. Pasahat tudu-tudu sipanganon
  3. Hula-hula dan Tulang mangupa / marmeme dan memberi Ulos Parompa
  4. Marsipanganon
  5. Yang Mangangkat menyerahkan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua undangan (Upa Raja Natinonggo).
  6. Pasahat Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada hadirin.
  7. Hata Sigabe-gabe.

Pasal 7
ULOS HERBANG

Ulaos Herbang untuk diberikan ke pihak Paranak pada acara perkawinan Boru Sihombing banyaknya 17 (tujuh belas) lembar, bila ada tambahan/titilan Paranak, tidak boleh lebih dari yang disediakan Sihombing dan Ulos Herbang yang akan diterima pada acara perkawinan anak (putra) Sihombing Banyaknya tidak dibatasi. Dalam menentukan banyaknya Ulos Herbang, hendaknya tetap memperhitungkan waktu penyerahan.

Sumber : http://sihombing.lumbantoruan.net

BUDAYA RITUAL DALAM PENGOBATAN

BUDAYA RITUAL DALAM PENGOBATAN

Pada saat Mulajadi Nabolon kembali ke benua atas, Mulajadi Nabolon bersabda kepada Raja Ihat Manisia dan Siboru Ihat Manisia. “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci.  Sudah kuberikan kepadamu Hata Dua, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan dirimu harus bersih dan suci”.       Bersumber dari ajaran tersebut Parmalim memberikan pelean atau sesajen suci dengan dihantar asap dupa dan air suci serta bersih tidak boleh makan daging babi dan anjing serta darah dan bangkai. Sebagai tindak lanjut ajaran tadi Ugamo Malim mempunyai rukun dan aturan yang dilaksanakan dan menjadi pedoman prilaku Parmalim antara lain :

1. Marari Sabtu

Pada setiap hari sabtu atau samisara seluruh umat Parmalim berkumpul di tempat yang sudah ditentukan baik di Bale Partonggoan, Bale Pasogit di pusat maupun ruma Parsantian di cabang/daerah untuk melakukan sembah dan puji kepada Mulajadi Nabolon dan pada kesempatan itu para anggota diberi poda atau bimbingan agar lebih tekun berprilaku menghayati Ugamonya.

2. Martutuaek

Upacara yang dilakukan di rumah umat yang mendapat kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Anak yang baru lahir sebelum dibawa bepergian kemana-mana harus lebih dahulu diperkenalkan dengan bumi terutama air untuk memebrsihkan dan ini dilaksanakan membawa anak tersebut ke umbul mata air disertai dengan bara api tempat membakar dupa. Kemudian baru dibawa ke dunia baru yaitu pasar dan diberi buah-buahan, manis perlambang hari depan yang makin manis. Setelah dirumah dilanjutkan lagi dengan upacara, bergantung pada kemampuan keluarga tersebut. Pada saat pulang dari pasar tadi, siapa saja diinginkan oleh keluarga si anak meminta buah-buahan bawaan si anak tadi sebagai perlambang bahwa si anak kelak akan bersifat maduma.

3. Mardebata

yaitu upacara yang sifatnya individual dimana seorang melaksanakan upacara sendiri tanpa melibatkan orang lain. Ritual ini sendiri mempunyai tujuan ganda yaitu meminta keampunan dosa atau menebus dosa dan syukuran. Seseorang yang merasa dirinya menyimpang dari aturan patik perlu menyelenggarakan perdebatan sebagai sarana penebus dosanya. Bagi orang lain pardebataon itu mungkin pula untuk mewujudkan kaulnya.

Mardebata ini boleh pula melibatkan yang lain. Hal itu bergantung kepada yang mampu. Karena Mardebata itu boleh oleh orang seorang boleh oleh keluarga dan seterusnya. Jika upacara dibuat besar-besaran misalnya untuk mewujudkan niatnya harus dengan menyediakan sesaji dengan secukupnya dan boleh pula dengan dihantar gendang sabangunan serta diatur oleh tata upacara resmi sesuai dengan tata upacara dari Ihutan atau dari Uluan.

Upacara Mardebata ini bagi yang mampu nampaknya sudah seolah-olah pesta, karena undanganpun dapat pula dilaksanakan. Jadi jelas bergantung pada nazar dikandung oleh yang terlibat. Jika satu nenek moyang sudah berniat untuk memuja Mulajadi Nabolon dengan jalan Mardebata hal itu dapat dilakukan oleh satu nenek moyang itu.

4. Pasahat Tondi

Upacara kematian dibagi dalam dua tahap. Pertama adalah pengurasan jenazah menjelang pemakaman, kedua adalah pasahat tondi. Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan upacara doa : “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”, Artinya : Berangkatlah engkau ke tempat kejadianmu. Satu minggu setelah pemakaman, keluarga yang ditinggal mengadakan pangurason tersemayamkan di rumah.    Satu bulan setelah pemakaman, dilanjutkan dengan Upacara Pasahat Tondi yaitu upacara mengantar roh dalam hati harfiah. Tuhan menciptakan manusia atas dua bagian yaitu badan dan roh (pamatang dohot tondi). Apabila badan mati, toh tidak ikut mati, ia akan kembali kepada penciptanya, sesuai dengan pandangan ketuhanan Parmalim, bahwa “Ngolu dohot hamatean huaso ni Debata” artinya “kehidupan dan kematian adalah kuasa Tuhan.    Upacara ini adalah upacara tonggo-tonggo atau dosa. Dapat dilakukan dengan sederhana dan dapat pula dilakukan dengan besar-besaran bergantung pada kemampuan keluarga yang ditinggal. Tentu dengan demikian sesaji harus terhidang dan upacara harus memenuhi keseluruhan tata tertib acara berdasarkan Ugamo Malim. Ini bulan berarti bahwa acara tidak boleh dibuat sederhana. Boleh dengan acara sederhana, yang pokok adalah bagaimana inti pasahat tondi itu harus terlaksana.

5. Mangan Napaet

adalah upacara atau berpuasa untuk menebus dosa dilaksanakan selama 24 jam penuh pada setiap penghujung tahun kalender batak yaitu pada ari hurung bulan hurung. Upacara ini adalah bersifat umum dilaksanakan oleh setiap cabang atau ganup punguan. Perangkat dasar upacara ini selain pangurason dan pardupaon yang terpenting ialah makanan napaet, diramu dari beberapa jenis buah dan daun yang pahit, seperti daun pepaya, buah ingkir, babal, cabe rawit, jeruk bali muda dan gara.

Mangan Napaet dilakukan pada awal puasa dan pada akhir sebelum berbuka, sedangkan ritual dimulai jam. 12.00 tengah hari. pada saat semua jemaat berkumpul di parsantian atau dirumah Ihutan/Ulupunguan, upacara dasar dimulai berupa puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon-Raja Nasiak bagi dan kemudian untuk mengingatkan hukumnya mangan napaet. Mangan Napaet dimulai dengan cara mengedarkan napaet tadi secara estafet. Mangan Napaet adalah merupakan pengabdian warga parmalim kepada Raja Nasiak bagi yang menderita untuk manusia. Dan juga arti mangan napaet adalah symbol kehidupan dari pahit menjadi manis, karena sudah mangan napaet akan diakhiri dengan mangan natonggi dan inilah permulaan hidup prilaku baru untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. setelah mangan napaet maka dilaksanakan pula upacara persembahan kambing putih kepada Mulajadi Nabolon.

6. Upacara Sipaha Sada

adalah merupakan upacara yang paling hikmad dan mengandung nilai religius yang paling dalam, bagi Umat Parmalim. Pelaksanaan upacara ini disambut gembira karena sehari sebelumnya Parmalim baru saja selesai mengadakan upacara mangan napaet yaitu satu cara upacara pembebasan manusia dari dosa.

Upacara Sipaha Sada adalah penyambutan datangnya tahun baru Ugamo Malim atau pada Sipaha Sada inilah pergantian tahun terjadi. Boleh dikatakan Sipaha Sada ini adalah tahun baru batak. Pada upacara ini pada umumnya seluruh orang batak melakukan dialog bathin. Dan hari berikutnya dinamai Suma. Pada hari itu diperingati hari lahir Simarimbulubosi. Upacara dipusatkan di Bale Pasogit. Upacara ini melakukan sesajen juga kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada ketiga wujud pancaran kuasa yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Debata Balabulan dan seterusnya sampai kepada Raja Nasiakbagi dihantarkan dengan asap dupa, air suci dan dengan bunyi gendang sabangunan.

Upacara ini dilaksanakan bersama di Bale Pasogit. Dengan demikian semua umat Parmalim. Pada upacara ini dilaksanakan dengan tertib dan memang benar-benar tertib dan hikmad karena dianggap hari tersebut adalah memperingati kelahiran Tuhan.

7. Upacara Sipaha Lima

yaitu upacara dilakukan pada bulan kelima kelender Batak untuk menyampaikan puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada wujud Pancaran Kuasanya mulai dari Debata Batara Guru-Debata Sori dan Balabulan dan seterusnya kepada Raja Nasiakbagi, karena atas berkatnya semua mereka memperoleh rahmat, sehat jasmani dan rohani. Upacara ini disebut Upacara Kurban, karena sajian yang dipersembahkan adalah hewan kurban dari kerbau atau lembu.

Sajian pertama kepada Mulajadi Nabolon yang seterusnya diantar dengan asap dupa dan air suci dan dengan bunyi gendang sabangunan.

Penyelenggaraan upacara Sipaha Lima ditetapkan pada hari ke 12-13 dan 14 menjelang bulan purnama. Hari tersebut dinamakan Boraspati, Singkora dan Samisara berkisar antara bulan Juli-Agustus pada bulan Masehi. Upacara diadakan dengan sajian yang lengkap dilaksanakan dengan penuh khikmad tanpa syukur Parmalim kepada Tuhannya dan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan pada hari-hari berikutnya.

Jika pandangan Batak Tua mengenai ketuhanan dikembangkan Parmalim dengan ugamo Malim, maka berikut ini yaitu oleh masyarakat Batak sekarang masih memperilakukan pandangan tersebut pada kehidupannya sehari-hari dalam bentuk budaya ritual. Untuk lebih memahami pendapat ini marilah kita mulai lagi melihat pandangan dan kehidupan masyarakat Batak dahulu dengan masyarakat Batak sekarang.

Lambang wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon adalah hembang atau bendera-bendera berwarna hitam diatas, putih ditengah dan merah dibawah dalam satu kesatuan yang disebut Debata Natolu. Warna Hitam adalah lambang Debata Batara Guru dari wujud pandang kuasa Mulajadi Nabolon dalam kebijakan atau hahomion. Artinya adalah bahwa pikiran manusia tidak mampu meneliti atau memikirkan kebijakan Mulajadi Nabolon.

Hahomion Mulajadi Nabolon itu dapat dialami tetapi tak dapat dipikirkan. Sebagaimana warna hitam pekat demikian pulalah gepalnya pikiran manusia atau kebijakan Mulajadi Nabolon. Manusia tidak dapat meramalkan dan meraba seperti gelapnya warna hitam, demikian pulalah dangkalnya dan gelapnya pikiran manusia tentang kebijakan Tuhan. Manusia tidak mampu untuk itu. oleh sebab itu lambang hitam dari Batara Guru adalah pertanda penyerahan diri kepadaNya.

Hanya terserah pada kebijakan Tuhanlah kehidupan manusia. Manusia tidak akan dapat berjalan pada warna hitam yang ketat, malam yang gelap. Maksudnya manusia tidak akan dapat berjalan di dunia ini oleh dirinya sendiri. Sebab itu berserah kepadaNya-lah dikemanakan hidup ini. Apalah arti manusia dibandingkan dengan Kuasa Agung yang dimilikiNya. Berserah kepada kebijakan Tuhanlah hidup ini karena Dialah kebenaran yang menetapkan kebijakan itu. jadi arti warna hitam pada lambing adalah berserah diri kepada kebijakan Tuhan atau berserah diri kepada hahomion ni Debata atau dengan kata lain : “Tung asi ni roha ni Debata ma”. Warna putih dari hembang adalah lambing Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kesucian atau hahomion. Putih tidak dapat dibedakan. Dengan demikian dalam warna putih tidak terdapat perbedaan. Demikianlah Debata Sohaliapan bahwa pada diriNya tidak ada perbedaan maka sering dikatakan Putih ada perbedaan pada dirinya. Dia harus sama dengan yang lain. Apabila dia sudah sama dengan yang lain, dan itu pula-lah hukum kekuatan baginya dan dialah menjadi penguasa hukum kekuatan itu (habonaron).

Warna merah dari hembang adalah lambing Debata Balabulan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kekuatan. Balabulan adalah wujud kejadian kekuatan alam itu. merah adalah warna tanah atau rata dalam bahasa batak, merah itu adalah perlambang kegairahan untuk hidup. Justru kegairahan untuk hidup itulah maka timbul keberanian.

Seseorang yang berani ia tidak takut mati, maka sering kita dengar : “Mardomu di tano rara hita”. maksudnya mereka baru berjumpa setelah mati. Agar mati itu jangan sampai terjadi maka harus tetap kuat. Agar tetap kuat inilah dilambangkan dengan merah yaitu wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon menjadi kekuatan. Warna merah adalah perlambang kekuatan dan agar tetap kuat (hagogoon). Setiap manusia mengharapkan kekuatan ada padanya. Kekuatan itu belum sempurna apabila hanya untuk diri sendiri. Dan lebih tidak sempurna lagi apabila tidak diridhoi Tuhan. Apabila kita padu arti ketiga warna tadi, maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa hitam itu adalah kebijakan Tuhan, putih itu adalah kesucian Tuhan dari Tuhan, dan merah adalah kekuatan Tuhan (hahomion-hamalimon-hagogoon). Dengan melihat bendera atau lambang yang warnanya hitam diatas, putih ditengah dan merah dibawah, itu berarti menggambarkan kebijakan, kesucian dan kekuatan dari Tuhan. Artinya yang dilambangkan dalam bendera itu adalah Batara Guru sebagai wujud pancaran kuasa kebijakan, Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa kesucian dan Debatabulan sebagai wujud pancaran kuasa kekuatan dari Mulajadi Nabolon.

Lambang ini boleh dipisah-pisah seperti satu bendera tetapi dipacakkan berdekatan, dengan ketentuan hitam di kanan, putih ditengah dan merah dikiri. Kesimpulan arti lambang bahwa warna hitam – putih – merah merupakan kebijakan-kesuciannya dan kekuatannya tidak dapat dibandingkan, tidak bermula dan tidak akan berakhir dan mula segala yang ada. Ini adalah merupakan keyakinan orang batak pada umumnya dari dahulu sampai sekarang. Mengapa penulis berani mengatakan demikian, baiklah penjelasan berikut ini. Mungkin kita geli apabila diingat pada masa-masa kanak-kanak dahulu disuruh orangtua memakai boning menalu diikat ditangan jika ada wabah penyakit. Agar kita jangan dihinggapi penyakit, agar kita jangan dihinggapi penyakit, demikian pandangan kita waktu itu. kegelian hati kita sekarang inipun sebenarnya tidak berdasar karena sampai saat inipun kita semua dan masyarakatpun sehari-hari.

Bonang Manalu tiga benang masing-masing warna hitam atau biru, putih dan merah dipilin menjadi satu adalah symbol doa masyarakat batak merupakan keyakinan bahwa seseorang akan selamat apabila yakin bahwa tidak ada yang lebih kuat dari Tuhan Yang Maha Esa mula kebijakan, kesucian dan kekuatan itu. apabila saya memakai bonang manalu berarti saya telah yakin bahwa apapun yang akan terjadi baik pada saat ada wabah penyakit saya akan tetap selamat berkat kepercayaan saya yaitu Tuhan yang saya puja itu jauh lebih kuat dari kita seluruhnya. Saya yakin dan percaya bahwa saya akan tetap selamat berkat kepercayaan saya bahwa Tuhanku pemilik hahomion itu pemilik kesucian itu pemilik kekuatan itu adalah lebih kuat dari segala yang ada untuk melindungi saya.

Ulos yang masih dipakai orang batak dalam kehidupan ada adatnya adalah bonang manalu, warna pokok dari setiap ulos batak adalah hitam putih dan merah, sedang warna lain adalah variasi kehidupan. Justru inilah ritual ulos dalam adat batak. Symbol Tuhanlah yang tergambar dalam ulos batak. Mangulosi dalam adat batak adalah upacara ritual dan khikmadnya masih dapat dirasakan masyarakat batak. Gorga adalah bonang manalu perlambang doa masyarakat batak akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa mampu mengayomi manusia. Gorga itu dipakai pada rumah maka disebut ruma gorga. Penghuni Ruma Gorga akan tetap yakin bahwa mereka akan selamat-selamat berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Gorma warna hitam-putih-merah dalam kehidupan orang batak bukan lah hiasan atau hiburan, tetapi adalah symbol keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Gorga dimana sajapun dipakai terutama pada solubolon selain dirumah adalah bermakna keyakinan tersebut. Hidup orang batak tidak dapat terlepas dari Bataraguru dari Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan dalam arti kekerabatannya yaitu hahomion ni Debata. gambaran Bataraguru, gambaran Debata Sorisohaliapan dan gambaran Debatabulan terdapat pada kehidupan masyarakat batak dalihan natolu.

Justru dalihan natolu pandangan hidup orang batak adalah perwujudan kehidupan dan titisan dari banua ginjang. Dalihan Natolu adalah gambaran tersebut.bahwa hula-hula adalah titisan hahomion dari wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon yaitu Bataraguru. Hasuhuton namardongan tubu adalah titisan hamalimon dari wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon yaitu Debata Sirisohaliapan dan Boru adalah titisan kekuatan dari wujud pancaran kuasa v yaitu Debata Balabulan.

Kita tidak akan heran tetapi mungkin akan kagum bahwa ulos dari hula-hula lebih banyak hitamnya dari warna putih dan merah maka ulos hula-hula itu warna sibolang dan sitolu tuho. Demikian ulos dari hasuhuton atau yang dipakai hasuhuton namardongan tubu lebih banyak putihnya dari warna hitam dan merah maka ulos hasuhuton warna ragi idup. Tentu demikian pula ulos boru atau yang dipakai boru lebih banyak warna merahnya dari pada warna putih dan hitam maka ulos boru atau yang dipakai boru itu warna sadum dan warna mangiring. Perhatikan ulos parompa kebanyakan berwarna hitam-biru dan putih. Budaya batak cukup tinggi dan bernilai tinggi dalam kehidupan spiritual. Budaya itu akan tumbuh dan berkembang. Oleh sebaba itu masih perlu kita lihat hal-hal yang lama apa kaitannya dengan masa depan.

Salah satu dari yang lama itu misalnya mengenai sajian diperuntukkan kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu yaitu Bataraguru-Debata Sori dan Balabulan. Sajian untuk Nabolon dan Debata Natolu adalah kambing Putih dan kepada Bataraguru adalah manuk jarum bosi berarti warna hitam, kepada Debata Sori adalah manuk putih warna putih dan kepada Balabulan adalah manuk mira polin berarti warna merah. Bila pengertian bonang manalu telah kita ketahui beserta ulos gorga apakah arti dan makna sajian atau pelean dengan warna tadi yang diberikan kepada Tuhanh Yang Maha Esa. Dan apabila dibandingkan dengan pengertian pelean sekarang ini, apakah pelean yang diciptakan nenek moyang kita itu tidak sejajar dengan perkembangan zaman.

8. Tortor Pangurasan

Tortor Pangurason (Tari Pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut.

9. Tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan)

Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja, tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).Gbr dibawah.

10. Mangapus hoda miakan

Budaya ritual mangapus hoda miakan ini sangat jarang digelar sebab budaya ini digelar pada pesta pengukuhan siraja batak, ini digelar terakhir sekali pada pesta pengukuhan Raja Sisingamangaraja menjadi Siraja Batak dengan menggunakan makan kuda putih.

11. Tortor tunggal panaluan merupakan suatu budaya ritual ini biasa digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tanggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah dan Benua bawah. Gbr dibawah.

12. Mangalahat Horbo

Mangalahat Horbo termasuk budaya ritual yang sangat penting sebab setiap tahun dilaksanakan pada hari kelahiran raja, hatorusan acara ritual ini sekaligus memberi sesajen kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu agar setiap manusia jauh dari mara bahaya.

Budaya ritual mangalakat horbo ini merupakan kunci dari seluruh ritual budaya batak kepada Mulajadi Nabolon.

13. Bahan pengobatan ritual yang selalu harus dibutuhkan.

Dalam pengobatan tradisional batak tidak selamanya menggunakan tumbuhan. Ada juga menggunakan makanan dan budaya ritual dalam pengobatan batak, suku batak selalu menggunakan anggir dan daun sirih dari seluruh kegiatan pengobatan dan budaya ritual.

14.Pengobatan dengan budaya ritual penyucian

Pengobatan ini biasa dilakukan dengan memandikan para pasien ke dalam air yang mengalir dengan menggunakan anggir dan tumbuhan lain yang sifatnya bertujuan membuang penyakit dari tubuh si penderita. Biasanya setelah selesai dimandikan setibanya dirumah akan diberikan makanan berupa ayam bagi laki-laki dan ikan bagi para wanita dengan tujuan agar roh para penderita menyatu dengan badan. Sebab manusia yang sakit biasanya karena rohnya tidak berada di dalam jasad.

15. Ilmu Pelindung

Dalam Ilmu Pelindung ini biasanya orang mencintainya dengan tujuan agar manusia tersebut jauh dari mara bahaya dan sekaligus membangunkan roh-roh kekuatan yang ada pada tubuh kita.

Dalam memberikan ilmu pelindung ini biasanya si penerima dibersihkan dibungkus dengan kain 3 warna, merah, putih, hitam dengan harapan merah kekuatan, putih kesucian dan hitam kebijakan berdiam dan bangkit dalam dirinya dan darahnya, sambil air jatuh di kepala si penerima dan si pemberi saling memohon untuk ilmu perlindungan tersebut.

Sumber : Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang my opera